Tentang Awan yang Selalu Menatap Langit

Dulu sekali, aku pernah bertanya-tanya pada awan,

“Hai awan, apakah kau bahagia hidup berdampingan dengan langit?”

Sang awan menjawab, lembut namun menyiratkan sendu, “Bahagia, tentu saja.”

Lalu perlahan-lahan sang awan bergejolak, naik-turun, merambat menutupi langit.

“Aku bahagia berada di samping langit, tapi langit membenci hujan yang bersembunyi dibalik setiap senti persendianku dan membenci matahari yang sinarnya selalu aku rengkuh dalam setiap jengkal rongga tubuhku,

dan pada akhirnya langit membenciku, sama seperti ia membenci bagian-bagian dari aku.”

Aku terdiam, memandangi bagaimana awan memanjakan langit, menjalar ke setiap sudut langit, memberikan sentuhan hangat pada langit dan meradiasikan keindahan ke permukaan bumi.

“Aku tidak mengerti,” sahutku.

“Kamu akan mengerti, nak, bahwa yang berdampingan tapi tidak ditakdirkan bersatu, selamanya tidak akan pernah menjadi satu.”

Dan sekarang aku sungguh mengerti.

─17 April 2015, ditemani secangkir teh tanpa gula.

Advertisements

3 thoughts on “Tentang Awan yang Selalu Menatap Langit

  1. Does your blog have a contact page? I’m having trouble locating it but,
    I’d like to send you an email. I’ve got some ideas for your blog you might be interested
    in hearing. Either way, great blog and I look forward
    to seeing it develop over time.

Give me a feedback:)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s