Prolog : Yogyakarta

Ah, Yogyakarta.

Tidak pernah terpikirkan sekali pun olehku untuk tinggal di Yogyakarta. 500 kilometer jauhnya dari rumah. Jutaan langkah jauhnya dari ayah dan ibu. Sungguh tidak pernah terbayang sekali pun di benakku untuk hidup sendirian di tengah kota yang sama sekali baru. Kesendirian terasa begitu menakutkan, dan membayangkan Yogyakarta dan setiap sudutnya yang asing membuatku begitu takut dan kalut.

Dan benar saja, hari-hari awal aku tinggal di kota ini, rasa rindu akan rumah menyerangku hampir setiap waktu. Yogyakarta dan rumah, sungguh jauh berbeda. Rumah terasa begitu ramai di tengah hiruk-pikuk metropolitannya, sedangkan Yogyakarta terasa begitu tenang  di tengah kesibukan kotanya. Jarang sekali terdengar teriakan caci-maki di tepi jalan atau bunyi klakson berkepanjangan. Tidak ada yang tergesa-gesa seperti dikejar-kejar waktu. Perputaran setiap detiknya begitu dinikmati oleh seluruh penghuni kota. Mereka tidak mengejar waktu, tetapi mengikuti waktu.

Namun aku tidak terbiasa. Aku terbiasa mengejar waktu. Aku terbiasa memberi garis imajiner antara satu menit dengan menit lainnya demi menyejajarkan langkah dengan manusia metropolitan lainnya.

Yogyakarta dan rumah, sungguh jauh berbeda. Rumah adalah rutinitasku selama 17 tahun terakhir, sedangkan Yogyakarta adalah rutinitasku 4 tahun ke depan. Aku mengenali setiap sudut rumahku. Aku tahu celah untuk merenung atau pun kedai untuk sekadar menyeruput kopi. Aku tahu tempat untuk membaca buku yang menyenangkan atau pun panggung yang setiap minggu menampilkan teater kehidupan.

Sedangkan di Yogyakarta aku merasa asing. Asing dengan setiap sudut dan jalannya. Asing dengan atmosfer yang ditimbulkannya. Walaupun keterasingan ini tidak dapat diartikan sebagai sesuatu yang negatif, namun aku saat itu belum siap dengan perubahan rutinitas yang terjadi dalam jangka waktu yang begitu singkat.

Aku saat itu bertanya-tanya hampir setiap waktu, apakah Yogyakarta mampu menjadi rumah keduaku?

Next Chapter:
Yogyakarta I : Tutur Kata dan Langkah kaki
Yogyakarta II : Kopi?
Epilog : Yogyakarta

Advertisements

3 thoughts on “Prolog : Yogyakarta

  1. Pingback: Yogyakarta I : Tutur Kata dan Langkah Kaki | Setelah Koma?

Give me a feedback:)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s