Tentang Cinta dari Hati yang Berongga

Namanya Priya. Adapun ia seorang perempuan dengan hati yang berongga. Satu rongga besar dibiarkannya menganga dilalui semilir angin dan digerogoti udara dingin. Matanya bulat besar dan bercahaya seperti halnya bulan purnama tetapi pupilnya hitam kelam, segelap langit malam yang pekat memikat. Pipinya tirus hingga menonjolkan tulang pipinya yang sungguh memesona dan menguarkan aura kecantikan yang tiada tara. Rambutnya hitam sehitam kayu mahoni, kulitnya seputih salju, bibirnya semerah darah, tetapi ia bukan putri salju yang memiliki tujuh kurcaci, ia hanya seorang Priya dengan sebuah kisah sepi.

Namanya Priya. Adapun ia seorang perempuan yang juga merupakan manusia. Dan seperti manusia pada umumnya, ia pun jatuh cinta. Atau lebih tepatnya, dulu ia pernah jatuh cinta. Ia pernah menaruh hati pada belasan lelaki dan belasan kali juga hatinya menyisakan rongga-rongga kecil yang makin lama menyatu menjadi sebuah rongga besar yang menganga lebar. Belasan kali sudah cinta mengecewakan perempuan itu. Kini, rongga besar di hatinya itu membuat ia tidak mampu lagi membunyikan detak hati pun merasakan gejolak asmara.

Dan suatu hari tibalah seorang laki-laki, sebut saja Matha. Adapun ia seorang laki-laki dengan hati seluas semesta. Ia mampu menampung duka dan gundah gulana, tawa dan bahagia, cinta dan luka, dan segala perasaan yang ada di muka bumi ini dengan lapang dada. Matanya bening sejernih mata air dan tatapannya dalam sedalam samudera. Pundaknya yang tegap seakan siap menopang siapa pun yang membutuhkan persinggahan di tengah lelahnya perjalanan kehidupan. Dan disanalah, Priya akhirnya bersinggah. Ia meletakkan kepalanya di atas pundak Matha lalu memejamkan mata dan beristirahat lalu mengucap sebaris doa untuk alasan yang ia sendiri tidak mengerti.

“Tuhan, biarkan pundak laki-laki ini menopang saya selamanya.”

Dan Tuhan pun mengabulkannya. Ia membuat Matha mencintai perempuan itu. Ia membuat Matha menahan perempuan itu agar ia tidak pergi jauh-jauh darinya. Ia membuat Matha mencintai Priya secara bulat sempurna seperti halnya mata perempuan itu. Ia membuat Matha tinggal bersama perempuan itu selamanya. Doa yang dikabulkan sebagai hadiah dari penderitaan yang telah ditanggung oleh hati perempuan itu.

Namun, sekalipun tangan perempuan itu menjadi hangat karena selalu digenggam dan pipinya menjadi merah karena sering dikecup, hatinya tidak tergugah barang sedikit. Masih berongga dan mati rasa. Matha, laki-laki itu, bertanya berulang kali kepada dirinya sendiri, apakah ia sudah mencintai dengan cara yang benar karena sungguh, perempuan itu tidak menunjukkan perasaan apa pun, cinta atau benci, tawa atau duka, apa pun. Tidak satupun perasaan terungkap dari mulut perempuan itu. Ia memang mampu menampung semua perasaan yang ada di atas bumi ini, tetapi ia tidak mengerti bagaimana memahami perasaan yang ‘tanpa perasaan.’

Lalu, ia berusaha sekeras mungkin untuk memperbaiki hati Priya. Berbagai jenis perekat telah ia coba gunakan pada hati perempuan itu. Namun, berkali-kali ia mencoba dan berkali-kali juga ia gagal. Angin yang terlalu kencang kadang-kadang berhasil membuka kembali rongga-rongga itu, atau lain waktu, rintik hujan meluruhkan semua yang sudah susah payah ia rekatkan pada hati perempuan itu. Sampai pada akhirnya ia bertanya kepada Priya,

“Apa lagi yang harus saya lakukan agar kamu mampu menggunakan hatimu untuk mengungkapkan perasaanmu, apa pun itu.”

Priya dengan senyum yang sangat tipis menjawab pelan, “Kau tahu, ada beberapa hal di semesta ini yang tidak dapat kembali meskipun katanya waktu akan mengembalikan segalanya.”

Matha mengernyitkan dahi. Sungguh? Waktu pun tidak dapat menyembuhkan hati wanita ini? Lalu, laki-laki itu menangis, tidak tersedu-sedu pun tidak sesenggukan. Hanya sebulir bening mengalir menuruni pipinya. Ini adalah kali pertama hati laki-laki itu tidak menerima perasaan dengan lapang dada, ia betul-betul tidak menerima perasaan yang ‘tanpa perasaan.’

“Kau tahu, Pri. Kupikir, semua manusia di atas bumi ini berhak untuk memiliki perasaan dan mengungkapkannya. Bahagia, sedih, gundah, marah, cinta, benci, duka, apa pun itu, Pri. Manusia berhak merasakannya, karena dengan merasa, kita adalah manusia. Apakah kamu bukan manusia, Pri?”

Priya tidak langsung menjawab pernyataan dan pertanyaan yang terlontar dari mulut laki-laki itu. Matanya menatap kosong lurus ke depan, mengedip beberapa kali.

Matha menghela nafas panjang. Melihat perempuan yang ia cintai tidak mampu menunjukkan perasaan apa pun betul-betul membuatnya sedih, sedikit banyak.

“Matha, barangkali, aku tidak sepenuhnya manusia. Jiwaku telah hilang mengembara entah kemana bersamaan dengan perginya seluruh isi hatiku. Rongga-rongga ini sudah terlalu besar, Matha. Fisikku tidak mampu lagi menahan jiwaku untuk pergi. Aku ini tinggal raga. Aku ini, bisa jadi, bukan manusia. Dan karena itulah aku butuh persinggahan, aku lelah. Berjalan melintasi waktu tanpa gelora perasaan sungguh amat melelahkan.”

Priya memejamkan matanya perlahan-lahan seiring dengan bibirnya yang mengucapkan sekata demi kata. Setelah matanya terpejam sempurna, beberapa bulir air mata keluar dari balik kelopak matanya, mengalir menuruni pipinya hingga ke tengkuk, lalu mengalir perlahan melewati hatinya yang berongga. Rongga-rongga itu lalu menampung air mata itu, seakan-akan air matanya mampu menjadi obat yang manjur bagi hati yang berongga.

Lalu, semalam setelah percakapan singkat itu terjadi, Matha, laki-laki itu, secara diam-diam mengganti hati perempuan itu dengan hati miliknya. Ia benar-benar ingin agar Priya mampu merasa, agar ia mampu merasakan apa yang orang-orang lain dapat rasakan, agar ia mampu merasakan apa yang manusia rasakan, agar ia mampu merasakan apa yang ia rasakan. Lantas, setelah terpasang dengan sempurna, ia lalu berbaring di samping Priya, dengan hati penuh rongga di tangan kanannya dan ruang hatinya yang sekarang kosong dan bercucuran darah pekat. Ia berbisik dengan nafas yang patah-patah,

“Sekalipun kamu bisa jadi akan merasakan pedih luar biasa setelah melihat saya esok pagi, tetapi saya harap pedih itu dapat membuatmu menjadi manusia kembali.”

Dengan satu tarikan nafas dalam, ia melanjutkan kalimatnya, “Dan saya senang, perasaan terakhir yang saya rasakan di penghujung hidup saya adalah kebahagiaan yang luar biasa bahagia.”

Sepersekian detik setelah itu, nafasnya lenyap dan hembusannya yang terakhir terbang bersama angin malam, naik, naik ke semesta, lalu hilang di antara awan.


Hallo! Tulisan ini saya persembahkan dengan bangga kepada Tania Latifa sebagai bentuk pelunasan permintaannya yang kurang lebih berisi: “mbok ya coba buat cerita roman yang abstrak.”
Yah, abstrak, hopefully.
Advertisements

Give me a feedback:)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s