Tentang Masa yang Akan Berlalu

Sepuluh tahun lagi, aku yakin aku akan merindukan setiap sesap kopi yang kutenggak beberapa tegukan sekaligus dan kamu yang biasanya akan memperingatkanku untuk menyesapnya lebih lambat. Makin lambat, makin nikmat, begitu katamu. Tetapi terlalu lambat jadi dingin, kataku. Lalu pertemuan kopi berikutnya, aku dengan maksud tertentu memesan es kopi, agar kamu tidak berceloteh kalau-kalau aku menenggak kopi terlalu cepat.

Sepuluh tahun lagi, aku yakin aku akan merindukan setiap lelucon-lelucon murahan yang kamu buat dan tawaku yang kuumbar terlampau keras. Lalu, kamu menangkup mulutku dengan telapak tanganmu, dan aku berusaha melepas tanganmu, lalu tertawa, lagi, dan lagi. Aku akan rindu ucapan-ucapan usil dan tingkah lakumu yang kelebihan energi. Aku akan rindu wajahmu yang walaupun menyebalkan dan konyol setengah mati, tetapi jarang tertawa lebar. (mungkin karena gojekanku kurang lucu?)

Sepuluh tahun lagi, aku yakin aku akan merindukan kemeja kotak-kotakmu yang kau gulung seperempat lengan dan kancingnya yang tidak kau kaitkan membuat kaosmu yang warnanya itu-itu saja─hitam-putih-abu─terlihat dengan jelas. Aku juga akan merindukan gelang-gelang hitam-biru-abu yang melingkari pergelangan tanganmu, dan sepatumu yang warnanya kebanyakan biru (dan punya nama pula!)

Sepuluh tahun lagi, aku yakin aku akan merindukan waktu-waktu ketika kita hanya berputar-putar jalan tanpa arah karena bimbang ingin pergi kemana atau waktu-waktu ketika kita ditolak hampir oleh semua kedai makanan karena tiba terlalu larut. Aku akan merindukan keputusan-keputusan serba labil yang kita buat saat berhenti di depan lampu merah, dan berubah lagi ketika lampu berubah hijau. Sungguh konyol kalau dipikir-pikir.

Sepuluh tahun lagi, aku yakin aku akan merindukan obrolan hangat kita yang membahas ini dan itu, buku, ideologi, kritik, masyarakat, hidup, manusia, atau sekadar obrolan tanpa arah yang dapat berlangsung berjam-jam. Aku akan merindukan pembicaraan menyenangkan yang kita lakukan sampai pukul 2 pagi dengan segelas krushers di genggaman tangan, pun juga merindukan keheningan yang menenangkan di sela-sela kata yang terucap.

Sepuluh tahun lagi, aku yakin aku akan merindukan malam dimana aku sangat ingin mendengar suaramu sebelum tertidur. Aku yang lalu bertaruh dengan diriku sendiri kalau-kalau dalam percobaan pertama kamu tidak mengangkat telepon, aku akan beranjak tidur. Lalu kamu secara mengejutkan mengangkat telepon di ujung nada tunggu dengan suara penuh kebingungan dan sepercik kepanikan. Kemudian aku hanya tertawa mendengar suaramu sambil meminta maaf karena telah mengganggumu pukul 3 pagi.

Sepuluh tahun lagi, aku akan merindukan tebak-tebakan angka yang kamu tanyakan saat aku enggan menceritakan apa yang sedang kupikirkan. Kalau angka yang kita ucapkan sama, kamu harus bercerita, begitu katamu. Aku lalu hanya manggut-manggut sambil berharap kita tidak mengucapkan angka yang sama dan seringnya memang begitu. Jika itu terjadi, lalu kamu akan memaksaku untuk mengulanginya lagi dengan dalih yang sebelumnya hanyalah ‘percobaan’, dan aku pasti akan menolak mentah-mentah ide curangmu itu. Hingga pada akhirnya, aku pun lupa apa yang kala itu sedang aku pikirkan. (Benar-benar tidak jelas kalau diingat-ingat.)

Sepuluh tahun lagi, aku akan merindukan kamu yang menyodorkan kepalan tangan setiap kamu akan pulang dan aku yang lalu membalas meninjukan kepalan tanganku. Jangan lupa bahagia, katamu. Kamu juga harus selalu bahagia, kataku dalam hati. Lalu, kamu pergi melanjutkan rutinitas diiringi sebuah lambaian tangan dariku yang kadang terlambat kulakukan.

Sepuluh tahun lagi, aku tidak tahu aku masih berada di sampingmu atau tidak. Namun, aku akan merindukan waktu-waktu yang telah kita habiskan bersama, walaupun aku tidak berjanji akan mengingat ini semua dalam kurun waktu sepuluh tahun (dan oleh karena itu aku menuliskannya). Dulu, aku mengharapkan sebuah ‘kebahagiaan selama-lamanya’ untuk kita berdua, tetapi seiring berjalannya waktu, aku menginginkan hal yang lebih sederhana dari itu. Aku ingin kita masing-masing bahagia, menangis, tertawa, marah, bermimpi, terjatuh, bernafas, dan hidup dengan orang yang kita masing-masing sukai, dengan cara yang kita masing-masing inginkan, dan lewat jalan yang kita masing-masing impikan.

Kalau kebetulan kita melewati jalan yang sama, maka waktu benar-benar pandai memberikan kejutan yang manis. Kalau tidak, baiklah, adios amigo, sampai bertemu di lain waktu! (Atau boleh jadi di lain cerita.)

─24 Januari 2016, diiringi suara konstan hujan.

Advertisements

Give me a feedback:)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s