Tentang Kerumunan dan Kesepian

Malam itu aku berjalan sendirian di jalan paling ramai di tengah kota dengan pikiran yang merambat kemana-mana. Kepalaku ingin agar aku berpura-pura menjadi pengamat jalanan yang ahli, maka aku pun melakukannya. Mobil melaju lambat, manusia berlalu-lalang, lampu-lampu jalan bersinar setengah redup, dan bising dimana-mana. Dan lewat hasil pengamatan singkatku, aku menyadari betapa egoisnya manusia yang tengah berlalu-lalang di tengah jalan ini. Tidak sekalipun mereka menengadah ke atas, melihat lampu-lampu jalan yang begitu romantis dan memesona, atau memperhatikan mobil-mobil yang melaju lambat agar dapat membiarkan mereka menyebrang dengan selamat. Yang manusia lakukan hanyalah berjalan, melihat depan dan mengangkat dagu dengan angkuh, bibir terkatup rapat, dan melangkah dengan tempo secepat-cepatnya.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah menjadi manusia yang egois itu menyenangkan? Atau manusia tidak akan pernah benar-benar menjadi sepenuhnya egois karena mereka masih membutuhkan jalan untuk ditapak, dan lampu-lampu untuk menerangi langkahnya? Namun apa yang terjadi bila lampu-lampu jalan yang menjelma egois? Ia hanya mau menerangi dirinya sendiri, bukan untuk jalan-jalan, bukan pula untuk manusia. Atau mobil-mobil begitu egois sehingga mereka berjalan cepat sesuka hati, menabrak apa pun yang ada di depan, tidak peduli ia manusia atau sekadar lampu-lampu jalanan.

Aku lantas menghentikan langkah dan duduk di salah satu bangku yang tersedia di tepi jalan. Tanganku berkeringat gelisah. Aku takut. Aku takut menjelma menjadi keegoisan-keegoisan yang telah menjangkit kerumunan besar di tengah jalan ini. Lalu di tengah kegelisahan yang ada, muncul seorang bocah kecil, duduk manis di sampingku, mengamatiku lewat kedua matanya yang besar dan cerah. Ibunya datang tidak lama kemudian dan duduk di samping bocah itu. Tangannya sibuk mengetik pesan di ponselnya, tidak sadar kalau anaknya sempat mencoba meraih tangannya.

Bocah itu kemudian terdiam menatapku dan aku membalas tatapannya dengan senyum pendek. Ia tersenyum balik, lalu sibuk membongkar isi tasnya. Mengaduk-aduk isinya, grasak-grusuk, terdengar berbagai barang berkelontangan di dalam tasnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah buku sebesar A4 dan sebuah pensil yang agak tumpul. Ia sudah tidak memperhatikanku lagi, tetapi sibuk menengadah ke atas, lalu melihat ke depan, menengok ke samping kiri dan kanan. Tangannya mulai menggenggam erat pensil, genggaman yang tidak sempurna dan terlampau kaku.

Betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa ia menggambar sekelumit kerumunan yang menyenangkan. Semua manusia, mobil, lampu, dan jalanan terlihat begitu menyatu dan menyenangkan, melakukan simbiosis mutualisme satu sama lain. Lampu-lampu jalanan terlihat gembira melihat dengan asik manusia yang berlalu-lalang. Mobil-mobil terlihat senang dan tersenyum memamerkan kaca-kaca yang mengkilap dan menyapa lewat bunyi klakson yang terdengar harmonis. Dan manusia-manusia egois itu, terlihat begitu bahagia. Berangkulan, bergandengan, tertawa, dan tersenyum satu sama lain, diantara lampu yang bersinar temaram dan mobil-mobil yang melaju lambat. Lalu ada bangku di tengah kertas itu, dan ada aku. Ya, aku dengan garis lengkung bibir yang melengkung ke bawah dan terasing di tengah hingar bingar manusia, mobil, dan lampu jalanan.

“Itu kakak.”

Bocah itu memberikan penjelasan singkat, tahu bahwa aku diam-diam memperhatikan gambarnya.

“Kenapa aku terlihat bersedih di gambar ini, dik? Aku tidak sedang cemberut. Lihat?” Aku lalu tersenyum lebar sambil menepuk kepala bocah itu.

“Tapi kamu terlihat kesepian.”

Aku tertegun. Bocah itu kemudian melepas kertas itu dari bukunya, melipat-lipatnya berantakan dan meletakkannya di atas pahaku. Kemudian ia dan ibunya yang masih asik memegang ponsel beranjak meninggalkan aku yang membisu dan menatap kepergian mereka dengan kaku.

Aku kemudian berbalik menatap kerumunan itu. Kerumunan yang tampak begitu menyenangkan lewat gambar abstrak seorang anak kecil sekaligus kerumunan yang tampak begitu mengerikan lewat mataku, si orang dewasa yang begitu menyedihkan.

Bukankah dibalik kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan bisa jadi berkedoklah si egois dan si tidak peduli? Mereka dapat menyelinap di antara tawa dan rangkulan hangat, lalu meracuni isi kepalamu. Aku barangkali memang keras kepala, dan di dalam kepala yang keras itu, aku membangun dinding tidak kasat mata yang membuatku terasingkan dari manusia-manusia lain. Itu hanyalah salah satu usaha kecilku untuk mengasingkan diri dari keegoisan-keegoisan manusia. Tetapi, kini aku pun mempertanyakan, apakah mereka sungguh benar egois atau aku yang terlalu pesimis? Benarkah mengasingkan diri adalah cara yang tepat untuk menanggapi manusia? Atau justru malah membuatku menjadi mahluk kesepian?

Tidak lama setelah itu, hujan turun perlahan, rintik lalu menghujam deras. Dan manusia-manusia itu seketika hilang dari jalanan, mobil-mobil berlalu dengan cepat, dan lampu-lampu jalanan sudah meluruhkan seluruh pesonanya bersama ribuan rintik hujan yang turun pada malam itu.

Dan aku pun menangis karena hujan membuat keterasingan ini terasa makin nyata di tengah bangku di tepi jalan, kuyup dan sendiri, tanpa hingar bingar, lalu-lalang, dan tawa manusia.

Kepalaku keras tetapi sayang, perasaanku terlampau lunak. Munafik sekali.

─16 Februari 2017, dengan pikiran yang lumayan rumit.

 

 

 

 

Advertisements

Give me a feedback:)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s