Tentang Perempuan yang Hidup Dalam Kematian

Sore ketika perempuan itu mati adalah sebuah petang dengan langit kejinggaan dimana para tetangga tertawa hangat sambil menyeduh teh dengan beberapa kuntum jasmine menggenang di permukaan cangkir.

Tidak ada satu orang pun yang sadar bahwa perempuan itu telah pergi bersama semesta karena perempuan itu tinggal seorang diri, dengan pagar-pagar tinggi mengelilingi rumahnya dan tidak ada satupun jendela di kamarnya. Hanya pintu dan lubang udara, sebuah kursi dan lemari, serta tempat tidur dan sebuah laci.

Kursi terletak di samping tempat tidur, berdekatan dengan dinding, memojok di sudut ruangan. Tempat tidur terletak di samping kursi, dengan seprai putih polos menyelimuti kasur, bantal, dan guling. Laci terletak di sisi lain tempat tidur, tingginya persis sama dengan tinggi tempat tidur dengan sebuah vas kecil berdiri tegap di tengah-tengah permukaannya.

Laci memiliki 2 ruang. Ruang pertama, yang paling atas, berisi kumpulan foto-foto yang dicetak hitam putih. Jika kamu mengintip foto-foto itu, maka kamu akan menemukan senyum perempuan itu menghiasi tiap lembarnya, beberapa bersama seorang pria berambut cepak, dengan kacamata berbingkai hitam pekat, merangkul pundak perempuan itu. Beberapa lainnya bersama seorang balita dengan poni menutupi dahi dan garis bibir yang mirip dengan perempuan itu. Sisanya adalah fotonya dirinya sendiri, menerima plakat-plakat penghargaan dan trofi dari orang-orang yang terlihat hebat. Ruang kedua, yang paling bawah, berisi beberapa buku yang semuanya berdebu. Ketika kamu menarik pintu laci, maka bau apak akan menguar kuat bersama kesedihan yang terasa pekat. Semua buku-buku itu memiliki judul yang sama, isi yang sama, pengarang yang sama, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri. Satu-satunya perbedaan adalah buku-buku itu memiliki sampul yang berbeda-beda, tanda bahwa buku itu telah dicetak dalam berbagai edisi. Beberapa di antaranya ada bekas terbakar, beberapa lainnya ada yang hilang separuh halaman, penuh sobekan kasar, dan keji tidak beraturan.

Lemari terletak di samping pintu dan di seberang laci. Lemari memiliki 2 pintu. Isinya hampir tidak ada, hanya beberapa gaun-gaun sederhana berwarna krem, dan 2 buah sepatu dengan warna yang sama. Semuanya tersusun rapi dan wangi, tanda bahwa perempuan tersebut merawat dengan baik koleksi gaun-gaunnya. Pintu terletak di samping lemari dan di seberang tempat tidur. Pintu itu kokoh, terbuat dari kayu mahoni berwarna cokelat. Walaupun gagangnya sudah berkarat, tetapi pintu itu masih berfungsi dengan baik.

Kamar itu dilengkapi dengan sebuah lampu gantung yang bisa dikatakan terlalu mewah untuk sebuah kamar yang sederhana. Lampu itu berpendar terang sepanjang hari, pagi, siang, malam, kecuali sore hari. Perempuan itu biasanya mematikan lampu pukul 4 sore, membiarkan sinar-sinar senja menerobos masuk lewat lubang udara yang terletak di atas pintu kamarnya, lantas menyalakannya lagi menjelang pukul setengah 7.

Tetapi tidak pada hari itu. Perempuan itu jatuh berdebam tepat di depan pintu, tepat ketika tangan kirinya hendak menyentuh tombol lampu di sebelah kanan pintu. Tidak ada suara apa pun keluar dari mulut perempuan itu pun tidak ada gerakan apa pun dari seluruh anggota tubuhnya. Rambutnya yang berurai panjang menutupi seluruh mukanya dan tangannya kanannya tergolek lemas di dekat jantungnya. Lalu, sore itu pun berakhir seperti biasanya, dengan sinar-sinar hangat menembus lubang udara, menimpa tempat tidur yang kini kosong tidak berpenghuni.

Keesokan sorenya, para tetangga yang tempo hari duduk menyeduh teh di seberang rumah itu menyadari keganjilan di rumah perempuan tersebut. Jendela rumah itu, yang tidak pernah ditutupi gorden, menampakkan pintu mahoni yang kian berdiri kokoh, dengan pendar lampu yang bersinar terang tampak dari lubang udara di atas pintu.

Mereka menyadari bahwa tidak biasanya perempuan itu tidak mematikan lampu di sore hari yang cerah seperti itu. Tetapi tidak ada yang beranjak membahasnya atau pun berniat memeriksa keadaan perempuan itu. Mereka pura-pura tidak tahu sebab mereka ngeri. Semua orang tahu bahwa perempuan itu konon adalah penulis gila yang dikhianati suaminya dan ditinggal mati anak perempuannya.

Jadilah tubuh perempuan itu tergeletak begitu saja sampai bertahun-tahun, sampai tubuhnya tinggal kerangka, sampai kayu mahoni pun melapuk, sampai laci kamarnya habis di makan rayap, sampai seprai putihnya berubah menjadi kuning, sampai para tetangga-tetangga itu kemudian berganti dari generasi satu ke generasi  lain, sampai jendelanya yang dulu mampu ditembus cahaya matahari kini tertutup semak belukar yang kemudian membumbung tinggi dan menenggelamkan rumah itu dibalik rimbunnya dedaunan dan sekelebat cerita legenda yang menyelimuti perempuan itu beserta rumah dan lampu nya yang tidak kunjung menyala kembali.

Semua orang di kota itu tahu, bahwa ada rumah di sudut kampung yang ditutupi semak belukar, yang sebaiknya tidak perlu kau hampiri, dan yang sebaiknya tidak perlu kamu pertanyakan. Cukup kamu ceritakan secara turun menurun pada anak-cucumu bahwa ada perempuan gila yang dahulu tinggal di rumah itu, supaya mereka tahu betapa ngerinya rumah itu.

Yang semua orang tidak tahu adalah, bahwa sesungguhnya perempuan itu masih hidup, di dalam tiap-tiap cerita yang kau bisikkan ke telinga anak-cucumu, di dalam mimpi-mimpi buruk setiap anak kecil, dan di dalam kepala manusia-manusia yang sedang depresi dan ingin bunuh diri.

─5 Maret 2017, setelah mimpi buruk 2 kali.

Advertisements

Give me a feedback:)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s