Teka-Teki dari Masa Lalu #1

Ketika umurku masih 5 tahun, aku senang menggambar.

Dua buah segitiga besar kugambar berhimpitan dengan sebuah setengah lingkaran terselip di antaranya. Dua buah segitiga itu mereka namai gunung dan setengah lingkaran itu mereka namai matahari.

Ada kotak-kotak dengan ukuran sama besar membentang di bagian bawah kedua segitiga itu dan ada sebuah garis meliuk membelah kotak-kotak tersebut tepat di tengah-tengahnya. Mereka menamai garis itu jalan raya dan kotak-kotak itu sawah.

Aku mewarnai gunung-gunung dengan warna biru tua dengan sedikit gradasi putih di puncaknya, karena kata mereka, di pagi hari ketika matahari mulai menyembul di balik gunung, ada awan panas yang terlihat jelas dan awan itu menggumpal memutih dan berpilin di puncak gunung. Aku mewarnai matahari dengan warna kuning cerah. Aih, aku paling senang mewarnai matahari karena hanya ia yang bisa bercahaya di antara gunung, sawah, dan jalan. Aku menambahkan garis-garis pendek mengelilingi permukaannya, menandakan bahwa matahari itu memiliki sinar yang begitu terang, begitu cemerlang, dan begitu kuat.

Aku mewarnai sawah dengan warna hijau muda, karena kata mereka, ketika kamu masih bisa melihat kotak-kotak sawah, itu berarti padi yang ditanam masih berusia muda sehingga warnanya masih hijau cerah. Jadilah aku mewarnai sawah dengan hijau muda, walaupun aku sesungguhnya bertanya-tanya bagaimanakah warna padi yang sudah tua? Akan tetapi aku mengurungkan pertanyaan itu karena mereka tidak begitu senang ditanya-tanyai terlalu banyak hal. Aku mewarnai jalan raya dengan warna abu-abu muda, dengan garis putus-putus bewarna putih kutorehkan di tengahnya. Aku tercenung sesaat melihat hasil karyaku, mengernyitkan dahi, sembari berpikir keras. Rasa-rasanya masih ada yang tertinggal.

Ah, aku tahu! Langit. Aku memandangi kotak krayonku sejenak. Hitam, biru, hijau, kuning, ungu, jingga, merah. Aku terdiam lagi. Aku tidak tahu warna langit pada pagi hari, tetapi aku yakin warnanya jelas-jelas bukan putih. Biru? Itu warna siang. Abu? Itu warna mendung. Jingga? Itu warna sore. Lalu, di tengah kebimbangan di kepalaku, aku menoleh perlahan ke arah mereka. Aku sedang menimbang-nimbang apakah aku harus bertanya tentang warna langit pagi atau aku memilih sendiri dengan asumsi pribadiku.

“Bolehkah aku bertanya sekali lagi? Sekali lagi saja.”

Mereka kemudian menoleh menatapku lalu berdeham ringan, tanda bahwa mereka setuju untuk ditanyai.

“Apa warna langit pada pagi hari?” Mataku membulat besar, berbinar-binar. Sebuah senyuman mengembang lebar di wajah mungilku kala itu. Aku sungguh-sungguh penasaran.

“Bukan biru tua seperti gunung yang kamu buat, tidak pula biru muda seperti langit yang cerah di siang hari, atau jingga seperti langit di sore hari, maupun hitam seperti langit di malam hari. Kamu boleh memberi warna apa pun selain warna-warna tadi, karena pagi artinya memulai hari, dan hari tidak selalu dimulai dengan warna yang sama.”

Aku terkejut-kejut mendengar ucapan mereka. Alasannya ada dua, yang pertama karena mereka tidak biasanya berbicara sepanjang itu, yang kedua mereka biasanya tidak pernah memberikanku izin untuk memilih dan menentukan pilihan sendiri. Dan oleh karena itu, sungguh, aku ingin memeluk mereka erat-erat karena mereka akhirnya memberikanku kesempatan untuk memilih, walaupun hanya sekedar memilih warna langit.

Jadilah hari itu menjadi salah satu hari yang paling bersejarah dalam hidupku, aku mewarnai langit dengan tujuh warna; merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, dengan mata berkaca-kaca.

Hari bersejarah lainnya? Kuceritakan lain kali. Kalau ingat.

Advertisements

Give me a feedback:)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s